Kacau Pengelolaan Sampah di Situbondo, DPRD Kritisi Perolehan Adipura

Kepulan asap masih terlihat di lokasi. Proses pemadaman terus dilakukan padahal kebakaran sudah terjadi sejak Senin (16/10/2023). Di hari itu juga, H. Tolak datang ke TPA di Desa Siliwung, Kecamatan Panji tersebut untuk mengecek kondisi kebakaran.

Kacau Pengelolaan Sampah di Situbondo, DPRD Kritisi Perolehan Adipura
Keadaan TPA pascakebakaran. Tampak asap masih terus muncul. (Foto: Narasinews.id)

NARASINEWS.ID, SITUBONDO - Penghargaan adipura yang diperoleh Kabupaten Situbondo beberapa waktu lalu mendapat sorotan dari Anggota Komisi IV DPRD Situbondo, Tolak Atin. Dia menilai, pengelolaan sampah di Situbondo masih banyak persoalan sehingga kelayakan terkait penghargaan Adipura untuk Kabupaten Situbondo ini dipertanyakan. 

Salah satu masalah terbaru terkait sampah adalah kebakaran di tempat pembuangan akhir (TPA). Di mana hingga berita ini ditulis (18/10/2023), kebakaran masih belum sepenuhnya padam. Kepulan asap masih terlihat di lokasi. Proses pemadaman terus dilakukan padahal kebakaran sudah terjadi sejak Senin (16/10/2023). Di hari itu juga, H. Tolak datang ke TPA di Desa Siliwung, Kecamatan Panji tersebut untuk mengecek kondisi kebakaran. 

Menurut politisi PKB ini, kebakaran yang tidak dapat tertangani hingga berhari-hari bisa saja menimbulkan dampak negatif. Di antaranya dampak terhadap kesehatan. 

"Ini saya menganggap bencanalah. Maka ketika ini menjadi bencana, pemerintah daerah harus benar-benar menangani dampak bencana ini. Dampak kesehatannya seperti apa? Dampak lingkungannya seperti apa?," Tanyanya. 

Padahal di Kasda masih ada anggaran BTT yang masih tersimpan kurang lebih Rp5 Miliar. 

"Makanya ini bisa dipakai dalam rangka penanganan. Misalnya penanganan bagaimana percepatan untuk pemadamannya. Terus nanti ada masyarakat yang terdampak terhadap efek daripada kebakaran. Ini harus benar-benar diperhatikan. Jangan kebakaran ini dianggap remeh dan berlarut-larut. Ini sampai sekarang sudah nampak tiga hari masih terlihat kebakarannya," ujarnya. 

Selain persoalan kebakaran, legislator dua periode ini juga banyak membahas persoalan-perosoalan lain yang berhubungan dengan sampah di Situbondo. 

H. Tolak mengatakan bahwa penghargaan Adipura yang didapat sudah seharusnya linier dengan kinerja di bawah. 

"Jangan kemudian penghargaan Adipura itu hanya untuk menutupi terhadap kinerja yang kurang bagus. Itu yang saya harapkan. Artinya jangan dijadikan media untuk membohongi publik. Seakan-akan program kegiatan terhadap pengelolaan sampah sudah maksimal, sudah benar," ujarnya. 

Padahal setelah dilihat terkait kinerja pengelolaan sampah kurang bagus. "Bagaimana pemilahannya, bagaimana edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat misalnya. Bagaimana dampak terhadap kesejahteraan dan lingkungan. Artinya pengelolaan sampah ini harus benar-benar dikelola. Jangan pengelolaan sampah dianggap remeh," ujarnya. 

Lebih detail, H. Tolak menjelaskan kelemahan dalam pengelolaan sampah di Situbondo. Kata dia pihaknya tidak pernah menemukan adanya edukasi dan sosialisasi terkait pengelolaan sampah dengan baik. 

"Pengelolaan sampah bukan hanya mengangkut dari tempat, dari pasar-pasar ke TPA. Tapi bagaimana masyarakat itu disadarkan dengan edukasi dan sosialisasi. Sehingga sampah yang kira-kira bisa membuat penumpukan penumpukan di TPA itu bisa terkurangi misalkan menggunakan alat-alat habis pakai, mendaur ulang sampah, menggunakan sampah yang  isa digunakan untuk dimanfaatkan kembali, terus pemilahan-pemilahan sampah organik dan sampah anorganik," ujarnya

Kepala DLH Situbondo Sebut TPA Sudah Padam

Sementara Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Situbondo, Yulianto, saat di konfirmasi Narasinews.id pada Rabu (18/10/2023) malam menyatakan bahwa kebakaran di TPA sudah padam. Yang tersisa hanyalah asapnya. 

Sementara terkait perolehan Adipura di Kabupaten Situbondo, Yuli meminta dewan terkait menanyakan langsung kepada penilai Adipura. Karena menurutnya pihaknya sudah melakukan hal-hal sesuai dengan yang diinginkan  untuk mendapatkan Adipura. Seperti adanya TPA. 

Sementara untuk kebakaran di TPA, menurut Kepala DLH disebabkan karena gas metan di TPA ditambah dengan cuaca yang sangat panas. 

Yulianto juga menjelaskan terkait upaya yang sudah dilakukan untuk mengurangi penumpukan sampah. Salah satunya kata dia dengan membuat kompos. Selain juga ada sampah yang diolah lagi dan bisa menghasilkan uang seperti plastik. (nns/liz)