Harga Tembakau Iris di Situbondo Mulai Meroket

“Alhamdulillah untuk harganya mulai membaik mas bila dibandingkan dengan beberapa waktu lalu,” ujar Salah satu petani tembakau asal Desa/Kecamatan Mlandingan, Khoirul.

Harga Tembakau Iris di Situbondo Mulai Meroket
Para pekerja menaikkan tembakau iris yang sudah kering ke mobil pikup. (Foto : Fathur Rozi/Narasinews.id)

Narasinews.id, SITUBONDO – Harga tembakau iris kering di Situbondo mulai mengalami kenaikan. Yakni Rp70 ribu hingga Rp80 ribu per-kilogram, dari yang awalnya Rp50 sampai Rp60 ribu per-kilogram.

Salah satu petani tembakau asal Desa/Kecamatan Mlandingan, Khoirul, mengatakan, di musim tanam ini dirinya menanam tembakau jenis sepuris. “Alhamdulillah untuk harganya mulai membaik mas bila dibandingkan dengan beberapa waktu lalu,” ujarnya, Sabtu (20/10/2022).

Namun Khoirul mengaku, harga pupuk bersubsidi menurutnya masih terlalu mahal untuk kalangan petani tembakau. “Harganya sekarang Rp300 ribu per-kuintal, sudah mahal batangnya tidak ada lagi,” bebernya.

Oleh karena itu, Khoirul berharap ada perhatian khusus dari pemerintah untuk mengatasi mahalnya harga pupuk. “Dan juga kami mohon kepada pemerintah stok pupuk bersubsidi ini jangan sampai langka,” pungkasnya.

Lebih lanjut, pria 40 tahun ini menyampaikan, dirinya menanam sekitar 1.000 tanaman tembakau sepuris. “Untuk harga bibitnya per-batang itu antara Rp3.000 sampai Rp.3.800. “Luas lahan saya sekitar setengah hektare. Alhamdulillah karena cuaca yang panas ini jadi hasilnya bagus-bagus,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati Situbondo, Karna Suswandi, mengajak masyarakat Kota Santri Pancasila untuk ikut memberantas peredaran rokok ilegal. Sebab keberadaan rokok ilegal sangat merugikan negara.

“Karena tidak memberikan pemasukan dari sektor cukai. Sehingga berdampak terhadap penerimaan pemerintah daerah dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) ke Pemkab Situbondo,” ujarnya.

Informasi tambahan, jumlah DBHCHT Pemkab Situbondo tahun 2022 sebesar Rp55.748.515.000. Dana tersebut dikelola oleh beberapa OPD. Di antaranya Dinsos, Diskoperindag, Disnaker, Dispertangan, Dishub, dan Dinas PUPP, Satpol PP, RSUD dr Abdoer Rahem, RSUD Besuki, serta RSUD Asembagus.

Dana jumbo tersebut digunakan untuk pembangian BLT, pelatihan kerja, pembagian pupuk urea gratis kepada petani, pemasangan PJU, pembangunan RTLH, progam Tolop (tutup lubang -red), pembangunan jamban keluarga, progam sehat gratis (Sehati), penurunan angka stunting, pengadaan alat kesehatan (Alkes), rehap gedung rumah sakit, sosialisasi tentang cukai dan operasi pasar rokok ilegal. (adv/*)

*Reporter : Fathur Rozi | Editor : Izzul Muttaqin