Penghasil Migas Terbesar hanya Isapan Jempol?

"Sejak setahun terakhir, saya menderita lumpuh akibat terjatuh di bagian sumur rumahnya dan hingga sampai saat ini tidak bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga," ujar Azhar

Penghasil Migas Terbesar hanya Isapan Jempol?
Azhar, warga yang tinggal di dekat lahan Migas yang mengaku hanya makan sehari sekali. (Foto : Ahmad Mirdza/Narasinews.id)

Narasinews.id, LHOKSEUMAWE - Disaat kekayaan alam Aceh di eksploitasi dan dipublikasikan ke khalayak ramai dengan slogan kemakmuran rakyat, tetapi keberhasilan mengambil sumber daya alam di Aceh tidak sejalan dengan kata kesejahteraan bagi rakyat. 

Potret kemirisan kehidupan masih saja terlihat di masyarakat kota Lhokseumawe dan Aceh Utara, walaupun sekitaran tempat beroperasinya lahan Migas ini menjadi pemandangan biasa saat kita melintasi kawasan tersebut.

Bagi Azhar, warga Desa Mesjid Punteut, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe, julukan Aceh sebagai daerah penghasil Migas terbesar hanya merupakan isapan jempol saja dan sebuah kata kiasan.

Dengan mata yang berkaca-kaca, dirinya pasrah dan tidak tahu harus mengadu kemana semenjak dari kecil hingga dewasa tidak ada perubahan kehidupan ekonomi keluarganya. Ironisnya Azhar tinggal di dekat lahan migas tersebut walau ada bantuan sedikit yang dia terima dan kini dirinya pun tidak dapat bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. 

"Sejak setahun terakhir, saya menderita lumpuh akibat terjatuh di bagian sumur rumahnya dan hingga sampai saat ini tidak bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga," ujarnya, Kamis (16/2/2023). 

 

Azhar melanjutkan, pernah membuat surat untuk diajukan, namun sampai saat ini belum ada bantuan dan biaya pengobatan, jangan untuk berobat, biaya makan sehari-hari pun sangat susah di mana dirinya hanya bisa satu kali dalam sehari. Itu belum lagi untuk biaya pendidikan anaknya.

Dengan isak tangis, Azhar kala melihat dua anaknya yang masih balita sedangkan tiga lainnya sedang ke sekolah seakan mengisyaratkan tanda kepasrahan yang harus dijalani sebagai predikat keluarga miskin. "Dengan kondisi daerah terpublikasi penghasilan gas alam berlimpah ruah, di mana hati nuranimu wahai pemangku kepentingan," tegas Azhar. (*) 

*Reporter : Ahmad Mirdza | Editor : Fathur Rozi