ODGJ Diduga Dijadikan PSK Jember, Para Pihak Belum Temukan Bukti

ODGJ Diduga Dijadikan PSK Jember, Para Pihak Belum Temukan Bukti
Tampang ayah yang diduga menjual sang anak. Hanya saja informasi tersebut belum valid karena tidak ada bukti kuat. (Foto: Istimewa)

NARASINEWS.ID - Viral video orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang diduga dijadikan pekerja seks komersial oleh ayahnya. Video terkait anak yang disebut-sebut sebagai PSK Jember itu banyak menyebar di berbagai media sosial.

Hanya saja, terkait adanya ODGJ yang diduga dijual, belum ada bukti valid. Dalam video yang viral tersebut, ayah dari ODGJ itu juga tidak mrngatakan bahwa sang anak dijual atau dipekerjakan sebagai PSK. 

Camat Jenggawah, Endro Lukito mengatakan bahwa informasi tersebut masih simpang siur. Dirinya tidak bisa memastikan kebenaran adanya anak dengan gangguan jiwa yang dijual ayahnya untuk memenuhi nafsu hidung belang di Jember. 

"Ada yang menyampaikan seperti itu (dijual). Ada yang menyampaikan tidak. Kita belum memiliki bukti kuat," jelasnya. 

Tak hanya itu, Camat Jenggawah juga belum mendapatkan informasi terkait ada tidaknya orang yang menggunakan jasanya. Juga tidak ada bukti pendukung lainnya seperti video atau foto saat tawar menawar atau proses eksekusi dilakukan. 

"Kami belum dapat bukti. Jadi jangan menjustice atau menfitnah yang bersangkutan seperti itu," tegas Camat. 

Meski demikian, Endro tidak mengelak bahwa yang bersangkutan itu mengalami gangguan kejiwaan dan sering bepenampilan berlebihan. Dia juga sering jalan-jalan naik sepeda bersama ayahnya. 

Kepala UPT Liposos Jember Roni Effendi, juga menyampaikan hal yang sama. Anak yang diduga dijual sama ayahnya sering berpenampilan berlebihan.

"Dengan menggunakan pakaian yang tidak layak, pakaian terlalu seronoh, sehingga menimbulkan banyak asumsi dari masyarakat, pandangan dari masyarakat, terkait anak bahwa dijual oleh ayahnya," terangnya. 

Kendati demikian, di dalam video viral di media sosial tersebut ayahnya menyatakan bahwa dirinya tidak menjual sang anak. 

"Namun banyaknya komentar warganet yang beranggapan memang dijual sejak dulu. Hanya asumsiasumsi. Kita mengedepankan asas praduga tak bersalah," tegas Roni.