Tari Topeng Jati Duwur Mulai Rambah Perhotelan

"Klinong klin..nong..klin nong," suara musik gamelan terdengar. Saat itu penari topeng asal Desa Wisata Jati Duwur, Kecamatan Kesamben ini, mulai mengibaskan selendang.

Tari Topeng Jati Duwur Mulai Rambah Perhotelan

Narasinews.id, Surabaya-Hotel Sahid Surabaya menggelar Destination Sahid Top Table. Yang hadir semua personel general manajer Sahid and Office Group se Indonesia, Rabu (6/9/2023).

Di kesempatan inilah disuguhkan tarian asli Jombang, Tari Topeng Jati Duwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang yang melegenda.

Sedikitnya 70 orang pentolan Sahid and Office Group  bertepuk tangan kagum. Tampak penari muda naik pentas.

Sore itu, di hall Lawu lantai 2 Hotel Sahid Surabaya di pegiat seni Tari Topeng Jati Duwur yang sudah ditetapkan Unesco sebagai warisan tak benda dari Jombang ini pecah.

 

"Klinong klin..nong..klin nong," suara musik gamelan terdengar. Saat itu penari topeng asal Desa Wisata Jati Duwur, Kecamatan Kesamben ini, mulai mengibaskan selendang.

Gerak lentur tangan, kaki dan olah liukan lengan menambah hidup tarian. Sementara topeng bercat hitam, berbalut cat warna emas ini seolah tersenyum.

Begitulah raut mimik wajah topeng yang disebut-sebut mampu membuat hati gembira para penontonnya ini.

Kesan gagah, perkasa, namun romantis menusuk kalbu penontonnya. Semakin penonton menghayati, maka aura kuat Topeng Klono masuk, menyejukkan namun disegani.

Topeng itu memiliki nama Topeng Klono. Oleh penciptanya, Ki Purwa, leluhur dan seniman asal Jati Duwur ini diberi nama itu wujud dari hasil  pengembaraan pemuda. 

Topeng ini seperti wajah tersenyum cantik. Seperti menyapa. Benar saja, topeng ini dipakai pemain tari untuk pembukaan acara Wayang Topeng.

"Tari Klono ini adalah tari pembukaan, sehingga bisa diambil untuk dipakai acara acara lain," ujar M Ridho Muzadi, pemain tari Topeng, di ruang istirahat Sahid Hotel.

Dia mengatakan nama topeng yang dipakai menari kali ini adalah Joko Klono. Artinya anak muda berkelana.

Sementara itu Budi Setiawan, GM Sahid Hotel Surabaya, mengaku berterima kasih atas penampilan tari topeng kali ini.

Menurutnya, Sahid Hotel, juga melirik Tari Topeng Jati Duwur karena selain seni tertua di Nusantara ini, juga telah diakui Unesco. Bahkan di Desa Jati Duwur sedang dikembangkan menjadi destinasi desa wisata.

"Sahid Hotel akan support. Terima kasih," ujarnya.

Demikian juga dari Sahid Head and Office, Yanti. Dia mengaku senang penampilan tari Topeng karena berbeda dari tarian lain.

"Saya kira tariannya sederhana dan simpel. Tapi memang itu tari pembukaan, klono, sekali lagi terima kasih," ujarnya.

Kali ini, penampilan tari topeng Jati Duwur, di Hotel Sahid ini, disaksikan Ketua Jatim Masyarakat Adat Nusantara, Erik Firmansyah.

"Kita suatu saat akan kolaborasi. Itu tarian kuno, lawas dan simpel. Tapi ada suasana berbeda di sana," ujarnya.

Sekadar diketahui, seni wayang topeng satu satunya asli dari Kabupaten Jombang, adalah seni  Wayang Topeng Jati Duwur.

Perpaduan seni musik, tari, kidung, cerita, dalang, dan pesan-pesan hidup.

Seni wayang Topeng selalu bertema jika dimainkan. Total pemain, penabuh dan dalang ada 30 orang. Total karakter topeng berjumlah 33 buah. Hingga kini masih tersimpan rapi.

Untuk tarian pembukaan di dalam seni wayang Topeng Jati Duwur yang kesohor dan telah dipentaskan dari seluruh kota di Jawa ini, termasuk TMII Jaya Ancol Jakarta.

Pentas seni tari topeng Klono, bisa diambil dengan durasi 10 menit. Di tarian inilah dipakai sanggar Tri Purwa Budaya, Desa Jati Duwur, Kecamatan Kesamben, Jombang, untuk mengenalkan ke khalayak luas.

Tari pembukaan itu, digunakan setiap memulai penampilan dan pertunjukan Wayang Topeng.

Wayang Topeng ini sejarahnya diciptakan sejak zaman abad 17, oleh Ki Purwo.

Tetapi, sesuai penelitian bahwa Topeng Jati Duwur itu tertua se Indonesia. Dengan predikat itu maka sebenarnya Ki Purwo juga mewarisi Topeng Jati Duwur dari leluhurnya.

Teori ini belum teruji. Namun ada bekas napak tilas leluhur jauh sebelumnya di Jati Duwur sudah ada Ki Suryonegoro.

Kini seni Wayang Topeng diwariskan ke ahli waris ke-7, yakni Sumarni. Kini yang mengurus anaknya bernama Sri Sulastri, karena Sumarni sudah tua.

Wayang Topeng ini merupakan warisan Purwo, Beberapa warga menganggap dia sesepuh desa karena sakti dan mampu membuat topeng dan pertunjukan wayang topeng. 

Berdasarkan cerita dari keluarganya, ia penduduk asli Kabupaten Gresik yang mengembara ke Desa Jatiduwur. Makamnya kini masih bisa ditemukan di Desa Jatiduwur. Dari Purwo kemudian terus menurun ke generasi berikutnya hingga sampai kepada Sumarni.

Wayang Topeng ini sering dipakai sarana ritual nadzar. Sebanyak 33 topeng yang diwarisi Sumarni itu ada waktu-waktu tertentu, khususnya setiap tanggal 1 Sura, diruwat.