Menelisik Pelaksanaan Ritual Yadnya Kasada Usai Hilangnya Patung Ganesha di Bromo

“Ternyata dengan ditutupnya wisata, masyarakat Suku Tengger bisa menjalani prosesi ritual dengan tenang. Jadi kita terapkan saja metode tersebut, meskipun masa pandemi telah usai,” terang Supoyo

Menelisik Pelaksanaan Ritual Yadnya Kasada Usai Hilangnya Patung Ganesha di Bromo
Sesaji disediakan dalam ritual Yadnya Kasada. (Foto: Raphel/Narasinews.id)

PROBOLINGGO, NARASINEWS.ID - Gunung Bromo ditutup untuk para wisatawan. Penutupan tersebut dilakukan karena pada 5 Juni 2023, di lokasi sedang diselenggarakan ritual Yadnya Kasada. 

Masyarakat Suku Tengger tanpa khidmat mengikuti rangkaian ritual tersebut. Mengingat yang ada di sekitar lokasi tidak ada wisatawan. Sehingga pelaksanaan acara tersebut bisa lebih tenang dan khusyuk. 

Menurut Supoyo, penutupan Gunung Bromo untuk wisatawan selama perayaan Yadnya Kasada dilakukan sejak pandemi Covid-19. Sebelum itu, meski ada acara Yadnya Kasada, wisatawan tetap tidak dilarang berkunjung ke Gunung Bromo. 

“Ternyata dengan ditutupnya wisata, masyarakat Suku Tengger bisa menjalani prosesi ritual dengan tenang. Jadi kita terapkan saja metode tersebut, meskipun masa pandemi telah usai,” terangnya.

Bahkan puncak prosesi ritual seperti larung sesaji pun terlihat begitu longgar di bibir kawah Gunung Bromo tersebut. Karena tempat sakral tersebut hanya dipadati oleh warga setempat yang hendak melakukan ritual larung sesaji.

“Kan kalau tidak ada wisatawan, jadinya tidak saling berdesakan. Bahkan selain kunjungan wisata yang ditutup, kita juga membatasi para pedagang yang hendak berjualan di area pure yang berada di lautan pasir,” tambahnya.

Memang, untuk pedagang pun juga dibatasi. Pedagang yang diperbolehkan berjualan, hanya pedagang yang menjual makanan tradisional seperti gipang dan properti upacara saja.

“Jadi untuk pedagang yang hendak berjualan selain makanan dan perlengkapan upacara, tidak kita perbolehkan. Agar suasana di sekitar Pura Luhur Poten bisa kondusif,” ucapnya.

Berdasarkan penuturan Supoyo, upacara sesembahan tersebut bermakna sebagai wujud rasa syukur masyarakat pada Sang Hyang Widhi.

“Tujuan Upacara Yadnya Kasada sebagai rasa syukur Masyarakat Tengger dengan memberikan sesembahan kepada para dewa sebagai bentuk penghormatan. Selain itu memohon agar hasil panen selalu berlimpah serta dijauhkan dari musibah dan bahaya,” ungkapnya.

Meskipun sebelumnya masyarakat Suku Tengger sempat dihebohkan dengan hilangnya Patung Ganesha, namun hal tersebut sama sekali tidak mengganggu prosesi ritual. Apalagi sudah diketahu dengan bahwa patung tersebut tidaklah hilang, melainkan diduga jatuh.

“Satu hari sebelum Kasada sudah kita ganti Patung Ganesha tersebut dengan yang baru. Jadi jangan khawatir, toh patung tersebut tidaklah begitu penting. Kan peran patung tersebut hanyalah simbol atau media warga Suku Tengger saja untuk meletakkan sesaji di bibir kawah,” ujarnya.

Di lain sisi, Devi, salah satu umat Hindu dari Yayasan Truna Truni, Karangasem, Bali, mengatakan bahwa perhelatan Yadnya Kasada di Gunung Bromo merupakan tradisi leluhur yang masih melekat dan dijalankan hingga saat ini.

“Ya meskipun ada perbedaan untuk tata cara ritual ibadah antara umat hindu di Bali dengan umat hindu di Kaki Gunung Bromo, namun tujuan kita sama. Oleh sebab itulah kita setiap tahunnya selalu ada kunjungan ke Gunung Bromo, terutama pada Momen Yadnya Kasada seperti saat ini,” tandasnya. (*) 

*Reporter: Raphel | Editor: Izzul Muttaqin