Rawan Bencana Hidrometeorologi, Ini Keluhan Petani Tembakau di Lumajang

"Kalau hujan gini ya susah, karena harganya itu bisa turun drastis, apalagi sekarang kan harga pada naik," keluh Marni.

Rawan Bencana Hidrometeorologi, Ini Keluhan Petani Tembakau di Lumajang
Petani di Lumajang tengah menyortir daun tembakau yang sudah dipetik. (Foto : Miftahul Huda/Narasinews.id)

Narasinews.id, LUMAJANG - Badan meteoroligi, klimatologi, dan geofisika (BMKG) baru saja mengumumkan nama-nama daerah yang berpotensi terjadi bencana hidrometeorologi. Salah satunya, Kabupaten Lumajang. 

Menurut BMKG, bencana hidrometeorologi adalah suatu fenomena bencana alam atau proses merusak yang terjadi di atmosfer (meteorologi), air (hidrologi), atau lautan (oseanografi). 

Bencana ini dapat menyebabkan hilangnya nyawa, cedera atau dampak kesehatan lainnya, kerusakan harta benda, hilangnya mata pencaharian dan layanan, gangguan sosial dan ekonomi, atau kerusakan lingkungan. 

Hal ini tentu mengancam keselamatan nyawa warga hingga sumber ekonominya. Tidak terkecuali petani tembakau di Lumajang. 

Dua minggu terakhir, Lumajang kerap diguyur hujan dengan intensitas tinggi. Akibatnya, para petani harus kerja ekstra untuk menyelamatkan tembakau yang telah dipanen. 

Pasalnya dengan intensitas hujan sedang hingga tinggi yang setiap hari mengguyur membuat para petani kesulitan untuk mengeringkan tembakau. 

Dampaknya tembakau akan berwarna hitam dan berbau. Kualitas tembakau yang rendah ini menyebabkan harganya anjlok. 

Sugito, salah satu petani tembakau di Desa Yosowilangun Kidul, Kecamatan Yosowilangun, mengatakan saat kondisi cuaca seperti ini, petani harus mengeluarkan tenaga ekstra. 

Terkadang ditengah aktivitasnya yang lain, ia harus lari terbirit-birit ke ladang saat kondisi sudah mendung untuk menyelamatkan tembakaunya yang tengah dijemur. 

Sebab jika tembakau yang tengah dijemur diguyur hujan, kualitas tembakau itu akan turun dan berdampak pada harga yang anjlok 

"Kalau gak ada panas kan sulit mengeringkan, jadi mendung sedikit kita sudah panik buru-buru mengamankan tembakau supaya tidak busuk," kata Sugito di Lumajang, Minggu (30/10/2022). 

Hal senada juga disampaikan Marni. Menurutnya cuaca tidak menentu ini membuat para petani terancam merugi. Pasalnya jatuhnya harga bisa sampai Rp25  sampai Rp30 ribu per-kilogramnya. Biasanya harga tertinggi tembakau kering bisa mencapai Rp50 ribu per-kilogram. 

"Kalau hujan gini ya susah, karena harganya itu bisa turun drastis, apalagi sekarang kan harga pada naik," keluh Marni. 

Sementara itu, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Lumajang, Dwi Wahyono, menjelaskan pertaruhan harga tembakau ada pada saat penjemuran hari pertama setelah merajang. 

Menurutnya jika hari pertama cuacanya mendung meskipun dua hari berikutnya panas, maka kualitas tembakau akan jelek. "Pertaruhannya pada hari pertama, asalkan panas. Hari berikutnya mendung masih tidak masalah, tapi kalau hari pertama sudah mendung ya jelek," jelasnya. 

Terancamnya hasil pertanian tembakau ini tentunya akan mengancam besaran nilai dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) tahun depan.

Padahal, dana DBHCHT ini setiap tahunnya ditunggu masyarakat untuk membantu meringankan beban mereka melalui bantuan pupuk, alat pertanian hingga bantuan langsung tunai (BLT). (adv/*) 

*Reporter : Miftahul Huda | Editor : Fathur Rozi