Ragam Kuliner Olahan Hasil Bumi Tersaji di Banyuwangi Street Food

"Pasar takjil di tiga lokasi ini cukup ampuh mendorong perputaran ekonomi dengan transaksi mencapai Rp 40 juta lebih per harinya," kata MY Bramuda

Ragam Kuliner Olahan Hasil Bumi Tersaji di Banyuwangi Street Food
Salah satu stand makanan hasil olahan bumi yang ada di Banyuwangi Street Food. (Foto : Habibi/Narasinews.id)

Narasinews.id, BANYUWANGI - Potensi sumber daya alam yang dimiliki Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur cukup melimpah untuk dinikmati bersama. Kini hadir pula Banyuwangi Street Food yang digelar selama Ramadan yang menyajikan ragam kuliner hasil bumi Banyuwangi.

Pasar takjil berkonsep "Banyuwangi Street Food" yang digelar sejak awal Ramadan di berbagai lokasi di Banyuwangi berhasil menggerakkan ekonomi masyarakat arus bawah, utamanya para pelaku UMKM. 

Seperti Insiyah, salah satu pedagang aneka lauk pauk di pasar takjil Jalan Letjen Sutoyo. Insiyah mengaku berjualan di pasar takjil setiap tahun saban Ramadan. Menu yang ia jajakan tergolong beragam, mulai harga Rp 5 ribu per bungkus hingga Rp 22 ribu per bungkus.

Ketika pasar takjil ramai, ia mengaku bisa mengantongi uang hingga lebih dari Rp 1 juta. Saat awal dan akhir Ramadan, nilainya bahkan bisa lebih dari itu. "Biasanya paling ramai saat awal dan akhir. Kalau pertengahan biasanya melandai," kata dia.

Dengan larisnya dagangan di pasar takjil, para pedagang merasa senang. Uang hasil berdagang bisa mereka pakai untuk memenuhi kebutuhan saat Lebaran mendatang.

Pemkab Banyuwangi mencatat transaksi di tiap pasar takjil mencapai puluhan juta rupiah per hari. Transaksi terbesar berada di tiga pasar takjil utama di pusat kota Banyuwangi. Ketiganya, yaitu pasar takjil di ruas Jalan Letjen Sutoyo, Taman Blambangan, dan Terminal Parwisata Terpadu.

"Pasar takjil di tiga lokasi ini cukup ampuh mendorong perputaran ekonomi dengan transaksi mencapai Rp 40 juta lebih per harinya," kata MY Bramuda, Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata, Minggu (9/4/2023).

Itu artinya hingga hari ke-14 Ramadan, transaksi di tiga pasar takjil itu telah mencapai lebih dari Rp 500 juta. Jumlah itu belum termasuk transaksi di puluhan pasar takjil lainnya yang tersebar di seluruh kecamatan di Banyuwangi.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa upaya pemkab dalam membalut pasar takjil dengan bingkai "festival street food" membuahkan hasil yang positif. Dengan mengemas pasar takjil menjadi salah satu festival unggulan dalam kalender pariwisata "Banyuwangi Festival", pemkab ingin ekonomi masyarakat arus bawah bergeliat selama Ramadan.

"Saat kami buka pada awal Ramadan lalu, kami memang menginginkan agar pasar takjil menjadi momentum menggeliatkan perekonomian," tambah dia.

Maka dari itu, pemkab mewadahi para pedagang UMKM untuk berjualan di pasar takjil selama Ramadan. Pemkab juga mengimbau agar masyarakat memanfaatkan keberadaan pasar takjil untuk memenuhi menu berbuka puasa. (*) 

*Reporter : Habibi | Editor : Fathur Rozi