Tolak Romusha, Bupati Situbondo dan Sejumlah Pejabat Dibantai Jepang

banner 400x130

Bupati Situbondo ke delapan bersama sejumlah pejabat lain siap-siap dieksekusi.

Narasinews.id, Situbondo- Kabupaten Situbondo ternyata memiliki sejarah heroik sekaligus mengerikan yang terjadi di zaman penjajahan jepang. Tepatnya pada tahun 1943.

Yakni pembantaian secara besar-besaran terhadap sejumlah pejabat yang ada di Situbondo. Salah satu korban keganasan jepang adalah bupati ke delapan, R.A.A Soedibjo Koesoemo.

Apa yang melatar belakangi pembantaian tersebut? Menurut salah seorang pegiat sejarah Kabupaten Situbondo, Abdul Halek, pembunuhan bupati dan sejumlah pejabat lainnya dilakukan karena adanya penolakan terhadap sejumlah kebijakan Jepang. Salah satunya perintah agar masyarakat melakukan kerja paksa ala Jepang. Atau yang lebih dikenal dengan istilah romusha.

“Jadi itu merupakan bentuk pengorbanan Bupati Situbondo di kala itu. Dia bersama sejumlah camat dan wedono rela dibunuh karena tidak ingin melihat rakyatnya menderita,” terangnya.

Menurut Abdul Halek, saat awal-awal penolakan, pihak Jepang sempat merayu bupati agar mau mengerahkan rakyatnya untuk kerja paksa. Namun orang nomor satu di Situbondo itu tetap dengan tegas menolak.

“Sikap tegasnya itu diikuti oleh sejumlah pejabat lain. Baik Wedono, camat, atau bahkan kepala desa. Semua menolak kebijakan Jepang itu,” jelasnya.

Akibatnya, pihak Jepang murka. Dia lantas membunuh R.A.A Soedibjo Koesoemo bersama empat wedono aktif dan satu pensiunan wedono. Serta 13 camat dan sejumlah pegawai lainnya.

“Diduga kuat, mayat mereka dicacah-cacah oleh Jepang. Kemudian dikubur dalam satu lubang,” ungkapnya. (liz)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.