BerandaNasionalRefleksi Hari Anak Nasional, Sudahkan Anak Kita Merdeka dari Ancaman Bullying?

Refleksi Hari Anak Nasional, Sudahkan Anak Kita Merdeka dari Ancaman Bullying?

Oleh : Yuniarta Syarifatul Umami, S.Pd., M.Pd
Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jember

Narasinews.id – JEMBER – Baru-baru ini kita dikejutkan dengan fenomena bullying atau perundungan dikalangan anak-anak yang berujung pada hilangnya nyawa seorang anak berusia 11 tahun asal Kabupaten Tasik Malaya, Jawa Barat.

Tidak disangka, kejadian tersebut membuat hati teriris setelah mengetahui motif dibalik hilangnya nyawa seorang anak yang masih duduk di bangku SD tersebut. Bukan hanya orang tua, kerabat, guru, bahkan seluruh warga Indonesia yang mengetahui kabar terkait kasus tersebut, turut merasa iba, geram, dan mawas diri. Sampai timbul pertanyaan besar bagi guru maupun orang tua.

Sudahkah murid-murid atau anak-anak kita merdeka dari ancaman bullying?.

Perundungan atau yang biasa kita dengar sebagai bullying merupakan salah satu bentuk tindakan kekerasan yang tidak menyenangkan baik secara fisik maupun verbal sehingga menyebabkan seseorang merasa sakit hati, tidak nyaman, dan merasa tertekan.

Di Indonesia berdasarkan data kekerasan yang dihimpun oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen-PPPA) sejak Januari 2022 hingga (Real time) saat ini telah mencapai 12.927 kasus kekerasan.

Begitupula berdasarkan jenis kekerasan yang dialami korban. Kekerasan seksual menjajaki angka tertinggi diantara tujuh jenis kekerasan yang telah diklasifikasikan oleh KemenPPPA. Tiga jenis kekerasan dengan angka kasus tertinggi, diperoleh dari kasus kekerasan seksual mencapai 5.557 kasus, diikuti kekerasan fisik sebanyak 4.368 kasus, kemudian disusul dengan angka kekerasan psikis yang mencapai 4.302 kasus, sisanya merupakan jenis kekerasan penelantaran, trafficking, eksploitasi, dan kekerasan jenis lainnya.

Dalam hal ini, bullying termasuk dalam jenis kekerasan yang mendapatkan angka kasus tertinggi. Angka kasus tersebut sungguh sangat fantastis, bukan sekedar angka belaka, namun ada banyak hal yang perlu menjadi perhatian disemua kalangan tidak hanya pemerintah namun juga seluruh lapisan masyarakat.

Jika coba mengamati sejenak dari lingkungan sekitar, seringkali kita melihat fenomena bullying yang kita anggap sebagai candaan semata, lelucon, bahkan hal kecil yang bisa berlalu begitusaja. Adapula lingkungan yang seolah mewajarkan hal negatif dengan pemakluman usia dibawah umur. Begitupula tampilan televisi yang biasa ditonton, seringkali beberapa acara menampilkan aktifitas-aktifitas membully dan mendapatkan perlakuan wajar bahkan tayangannya bebas tersiarkan.

Hal tersebut seolah-olah membuat bentuk kekerasan yang bernama bully menjadi hal yang biasa di kalangan masyarakat. Namun, hal ini bertolak belakang bagi apa yang dirasakan korban. Kondisi kesehatan fisik dan psikis setiap orang berbeda. Begitupula ketika seseorang mendapatkan perilaku bullying, maka responnyapun berbeda-beda.

Apabila hal itu terus menerus terjadi tanpa adanya perhatian dan penanganan khusus dari lingkungan sekitar, kisah tragis seperti bocah SD di Tasikmalaya kemungkinan bisa saja terjadi kembali.

Dari sini kita turut menyaksikan betapa luar biasa dampak kekerasan pada anak, khususnya pada kasus bullying apalagi hingga memakan korban jiwa. Apapun bentuknya, bullying tidak bisa ditoleransi. Butuh adanya sinergi dan tindakan tegas, baik dari aparat hukum, rehabilitasi sosial, petugas kesehatan, pendampingan tokoh agama, lingkungan sekolah, keluarga, dan seluruh lapisan masyarakat.

Apalagi Indonesia telah memberikan payung hukum dalam menjamin perlindungan anak melalui Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002. Selain itu, perlu adanya edukasi secara luas mengenai dampak bullying dan bagaimana cara penanganannya.

Hal termudah bisa diterapkan dari lingkungan terdekat, mulai dari keluarga, masyarakat, maupun sekolah. Mengenalkan kepada anak-anak pentingnya adab dengan berkata baik, berperilaku yang baik, menghargai teman, dan pada akhirnya nilai pancasila yang terkandung dalam kurikulum merdeka juga penting untuk dikenalkan dan diterapkan kepada anak.

Anak yang merdeka tentulah terbebas dari ancaman, ketakutan, kekhawatiran, serta bebas dari masalah kesehatan fisik maupun psikis. Anak yang merdeka jiwanya, dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Bebas mengeksplorasikan diri sesuai dengan minat, bakat, dan kecerdasannya, serta mampu bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

Jika sinergisitas pemerintah dan seluruh elemen masyarakat serius dalam menghadapi kekerasan bullying pada anak, tentunya refleksi peringatan Hari Anak Nasional 2022 ini bisa kita rasakan manfaatnya secara luas.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular