BerandaPolitikDPRDPolitisi Senior Buka-bukaan Asal Usul Rencana Pembubaran Perusda di Situbondo

Politisi Senior Buka-bukaan Asal Usul Rencana Pembubaran Perusda di Situbondo

Narasinews.idSITUBONDO – Penundaan rapat paripurna persetujuan dan penetapan Raperda pembubaran dua perusahaan daerah (Perusda) akibat tidak terpenuhinya kuota forum (Kuorum) menjadi perhatian politisi senior di Situbondo, Zeiniye. Wanita yang menjabat sebagai anggota DPRD Provinsi Jatim ini menyatakan bahwa persoalan di tubuh Perusda Pasir Putih dan Banongan sudah terjadi cukup lama.

Wanita yang juga memimpin DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Situbondo ini mengatakan bahwa dirinya sejak tahun 2009 sudah memberikan pendampingan terhadap pengelolaan Perusda. Kebetulan ketika itu, dia masih menjabat sebagai wakil rakyat di Kabupaten Situbondo.

“Kami diberi amanah sebagai wakil rakyat sejak tahun 2009. Ketika itu, pendapatan Perusda adalah Rp15 juta untuk Pasir Putih, dan Rp200 juta untuk banongan,” ungkapnya.

Menurut Zeiniye, dukungan terus diberikan agar dua Perusda tersebut semakin progres. Khususnya dalam peningkatan pendapatan asli daerah (PAD).

“Hingga kami merekomendasikan agar Perusda bisa bekerjasama dengan pihak ke tiga dengan prinsip sesuai regulasi. PAD-nya pun diharap bisa maksimal,” ujarnya.

Namun kondisi Perusda Banongan sejak 2009 dalam perkembangannya tidak mengalami peningkatan. Padahal pergantian terhadap direktur sudah dilakukan sebanyak tiga kali.

“Tapi kita tetap optimis. Hingga pernah ada kerjasama antara Banongan dengan PG Wringinanom. Tujuannya agar PAD-nya bisa maksimal. Bahkan tidak hanya itu, kami  juga turut melahirkan perubahan Perda perusda yang memberikan peluang diversivikasi perusahaan. Tujuannya agar banongan bisa melakukan usaha lainnya selain perkebunan,” ungkapnya.

Bahkan juga sempat ada Pansus Perusda. Akan tetapi hal itu tidak membuat nasib Banongan menjadi lebih baik.

“Kami masih ingat, pernah nol rupiah tidak ada kontribusi untuk PAD. Dan fraksi kami menyampaikan waktu itu agar Perusda ditutup karena terus merugi,” ujarnya.

Hanya saja, kata Zeiniye, Bupati kala itu, H. Dadang wigiarto, menyampaikan di forum rapat paripurna yang terhormat pasca pelantikan direktur baru. Perjanjiannya kala itu, jika direktur tidak  mampu menaikkan PAD, maka sudah ada pakta integritas agar direktur mundur.

“Itulah yang menjadi penyemangat kami untuk tetap memberi harapan cerah bagi Perusda. Dan kami tidak pernah lelah mendampingi,” ujarnya.

Begitu juga dengan Pasir Putih, dari waktu ke waktu terobosan-terobosan terus didorong. Salah satunya dalam hal karcis. Wakil rakyat mendorong agar penarikan karcis tidak dilakukan secara manual, melainkan elektrik agar bisa menekan kebocoran.

“Berulang-ulang terus kami sampaikan di forum paripurna. Tapi alhamdulillah, hal itu diabaikan dan hanya jadi catatan,” terangnya.

Apa arti dari semua itu, kata Zeiniye, keinginan menutup Perusda sebenarnya bukan keinginan seorang Bung Karna (Bupati Situbondo) karena faktor politik. Melainkan sudah bergulir lama.

“Maka hari ini, ketika Bung Karna mengusulkan pembubaran Perusda untuk efisiensi belanja aparatur dan peningkatan PAD dengan adanya OPD baru Badan Pendapatan Daerah (Bapenda), maka bagi wakil rakyat tidak ada alasan sebenarnya untuk menghambat dengan alasan nasib pekerja. Karena semuanya bisa dikoordinasikan dengan baik,” ucapnya.

Menurut Zeiniye, dirinya mendukung langkah Bupati bukan karena sebagai Ketua Partai Pengusung.

“Akan tetapi karena kami adalah pelaku. Bukan sekedar pengamat, apalagi penonton perkembangan Perusda. Kami berkomunikasi baik dengan unsur Perusda sejak dulu. Sekali lagi ini bukan karena faktor politik atau like and dislike. Tetapi lebih kepada keinginan kami dari nurani yang paling dalam agar Situbondo lebih baik PAD-nya,” ujarnya.

Kemudian tanggal 6 Juli 2022, kembali dilakukan Paripurna Perusda. Dan rapat tersebut gagal digelar karena tidak Kuorum. Banyak anggota dewan yang tidak hadir. Di antaranya Fraksi PKB dan GIS.

“Maka kepada para wakil rakyat, mari kita melihat secara jernih persoalan ini. Dan kita persembahkan yang terbaik untik rakyat. Karena sejatinya kita pun nanti akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT,” ungkapnya.

Menurut Zeiniye, pihaknya sangat khawatir dengan keadaan di Situbondo.  “Sekalipun saat ini saya tidak berada di Situbondo karena sedang menunaikan ibadah haji , tapi saya tetap berpikir bagaimana Situbondo lebih baik,” pungkasnya. (liz)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular