Harlah IKSASS, Meneguhkan Kemandirian untuk Pesantren dan Negara

Penulis: Ulfiyah*
banner 400x130

IKSASS merupakan organisasi di Pondok Pesantren Salafiyah-Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Persatuan yang bersifat regional ini hadir untuk mendukung kegiatan-kegiatan kepesantrenan. Siapapun yang sudah mengenyam pendidikan di salah satu pesantren terbesar tersebut secara otomatis akan menjadi bagian dari kelompok itu.

Dari sisi struktural, IKSASS sudah berdiri di setiap daerah se-Nusantara. Dan keseluruhannya berada di bawah naungan Pusat IKSASS. Proses perekrutan pengurusnya ditentukan oleh kemampuan, pengalaman dan tingkat militansi yang tinggi terhadap pesantren. Hal ini tentu berbeda dengan beberapa organisasi lainnya yang cenderung berkepentingan dan transaksional.

Berkenaan dengan peningkatan mutu, melalui IKSASS seluruh santri diasah skillnya dalam bidang ekonomi, organisasi, sosial dan seni budaya. Karir keorganisasian akan ditempa di lembaga ini. Tidak hanya itu, lingkup pesantren yang tertutup dengan budaya luar turut membantu terhadap keseriusan kaderisasi santri ataupun kerja-kerja organisasi. Yakni melalui pelatihan yang dikenal dengan Dirosah I, II dan III.

Selain itu, IKSASS juga memiliki badan otonom. Seperti sanggar seni yang mewadahi keahlian santri di bidang kesenian ataupun budaya, tarik suara dan kaligrafi.

lebih dari itu, seorang santri yang sudah kembali ke kampung halamannya akan tetap menjadi anggota IKSASS (Ikatan Santri Alumni Salafiyah-Syafi’iyah). Tujuannya agar santri yang sudah berhenti masih berkomunikasi dan memperoleh informasi-informasi berkaitan kepesantrenan.

Sebagaimana dawuh pengasuh pesantren yang ke-3, Al-Maghfurlah KHR. Achmad Fawaid As’ad Syamsul Arifin “Santri saya yang keluar dari IKSASS berarti keluar dari barisan Salafiyah-Syafi’iyah.” Itu artinya, seorang santri diharapkan tidak terputus jasad dan ruhnya dengan pesantren.

Sehingga, IKSASS alumni menjadi kepanjangan tangan dari pesantren. Saat masyarakat hendak memondokkan anaknya, masing-masing IKSASS alumni se-nusantara turut membantu proses pendaftaran. Pun dengan kepulangannya dan pemberangkatannya. Intinya, semua yang berkenaan dengan pelayanan kepesantrenan untuk masyarakat akan menjadi bagian tugas dari IKSASS alumni.

Jika mengacu pada hasil Musyawarah Besar IX, tanggal 01 Oktober 2021, IKSASS sudah berumur 33 tahun. Terhitung sejak berdirinya pada tanggal 1 maret 1988 (AD Mubes, 1988), kemudian tanggal 1 oktober disahkan langsung oleh pengasuh pondok pesantren ke-2 KHR. As’ad Syamsul Arifin.

Tentu ada banyak agenda yang akan digelar untuk menyambut hari lahir (Harlah) IKSASS ke- 33 ini. Mulai dari yang dilaksanakan dengan Daring (dalam jaringan) atau pun Luring (luar jaringan).

Bagi penulis, yang menarik pada ulang tahun kali ini adalah tema yang diusung oleh panitia Harlah. Yakni “Meneguhkan Kemandirian Untuk Pesantren dan Bangsa”. Mengapa demikian? Karena para santri dan terkhusus alumni kembali diingatkan dan ditekankan terkait kemandirian dalam perjuangan.

Misalnya, setiap kali ada agenda berkenaan dengan IKSASS, seluruh akomodasi dipasrahkan penuh kepada anggotanya. Sehingga, tak jarang masing-masing santri harus mengocek uang saku sendiri untuk membeli konsumsi atau perlengkapan lainnya. Sedangkan bagi peserta yang tak bisa mengeluarkan sumbangan dana, secara otomatis membantu dengan tenaga. Dan semua ini dilakukan penuh dengan suk cita.

Pertanyaannya, apakah IKSASS bisa menjalankan program kerjanya jika mengacu pada uang saku pribadi santri? Dengan tegas penulis menjawab bisa. Tentu dengan cara yang berbeda-beda.

Belum hilang dari ingatan penulis, menjelang ujian madrasah ibtida’iyah, Tsanawiyah ataupun aliyah, seluruh santri akan melihat dengan jelas bahwa pendaftaran ujian yang dibayarkan tertera tulisan “tanda bukti pembayaran pendaftaran ujian madrasah untuk IKSASS”.

Beberapa bulan kemudian uang pendaftaran ujian santri ini akan turun ke pusat IKSASS santri untuk didistribusikan ke masing-masing IKSASS se-Nusantara sesuai dengan banyaknya anggota yang secara validitas teruji keabsahannya. Jadi, program-program kerja yang dicanangkan oleh masing-masing organisasi itu anggarannya dari anggotanya sendiri.

Dari sini bisa kita lihat, bahwa kemandirian IKSASS ditentukan oleh seluruh anggotanya. Bukan pada elemen-elemen dari luar. Kemandirian ini penting. Mengingat, IKSASS adalah lembaga di bawah pesantren yang memang tidak bergantung pada proposal lalu disebar ke dinas-dinas atau instansi lainnya.

Terakhir, nostalgia masa pesantren mengingatkan penulis. Prihal ekonomi, santri memang sejak dini diajarkan langsung mengatur keuangan yang dikirim oleh orang tuannya. Bagaimana anggaran yang sudah dipegang harus sesuai dengan ketentuan penggunaan dan batas waktunya. Selain itu, santri dituntun untuk mandiri dalam melaksanakan aktivitas kesehariannya. Mulai dari mencuci, belajar, belanja dan berolahraga.

Akhirul kalam, pada tema harlah IKSASS Ke-33 ini, pelajaran-pelajaran kemandirian yang kita dapatkan dan kita alami di pesantren, kita kembalikan kepada IKSASS. Tidak hanya itu, kita sodorkan apa yang sudah diperoleh kepada khalayak luas, terkhusus mengabdikan diri kepada negara.

*Alumni pondok pesantren Salafiyah-Syafi’iyah Sukorejo dan anggota IKSASS Rayon Situbondo.

(han)

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.