BerandaFeaturFigurDari Kuli Bangunan, Wartawan, Lalu Advokat

Dari Kuli Bangunan, Wartawan, Lalu Advokat

Narasinews.id -. PROBOLINGGO – Gaya bicaranya blak-blakan, tegas, dan to the point. Tapi bukan berarti keras atau kaku.

Dua jam berbincang dengan advokat Mulyono SH, MH, menegaskan bahwa ia adalah sosok yang bisa diajak berdiskusi.

Kesannya ia justru figur yang ramah, dan kira-kira memiliki kepekaan sosial yang cukup sensitif.

Kasus yang pernah ditangani hanya cukup dibayar pembelian materai kontrak, menegaskan soal kepekaan itu, mengingat orang yang dibelanya terkategori orang tak mampu.

“Bukan ujub, tapi kenyataan yang kita alami begitu di lapangan. Ini hanya soal komitmen dan sikap kita di tengah masyarakat,” kata Kang Mul, sapaan akrabnnya.

Di sisi lain, Kang Mul tak memungkiri dalam menangani kasus-kasus kejahatan kerah putih dan kegiatan-kegiatan yang berdampak luas ke masyarakat, ia memasang tarif (lawyer fee) cukup tinggi.

Menurutnya, penanganan terhadap kasus semacam itu membutuhkan energi ekstra.

Misalnya dalam hal pengumpulan data dan informasi u bahan penting pembelaan.

“Kasusnya saja ekstra . Dan, saya dikenal lawyer tarif mahal,” ujar Kang Mul, terbahak-bahak.

Yang menarik, status advokat yang disandangnya itu ternyata bukan sesuatu yang direncanakan.

Kang Mul kecil tak pernah punya cita-cita jadi lawyer. Baginya ini bukan sebuah “kecelakaan”, tapi lebih kepada tersesat ke jalan yang benar.

Mengulik perjalanan hidupnya, bapak 7 anak kelahiran Bangkalan, Madura, ini nampak matang ditempa zaman.

Kang Mul muda, pernah jadi kuli angkut (tukang manol) kuli bangunan, dan ojek payung di Kamal, Madura, kawasan penyeberangan kapal.

“Jadi kernet truk ya pernah. Sambil manggul-manggul muatan, gitu,” ujarnya sembari tertawa.

Di periode 90-an, Mulyono masuk Surabaya. Ia bekerja sebagai Satpam di Pakuwon Jati. Di tempat itu pula, advokat yang perawakannya seperti Adnan Buyung Nasution (rambut putih) ini dipindah menjadi teknisi. Gegara bantu-bantu dalam pembuatan swimming pool di kondominium lantai atas.

Kang Mul kemudian banting setir, memulai bisnis rumahan (home industri) rokok yang menurutnya saat itu booming dan harga lagi bagus.

Sayang itu tak berlangsung lama. Kang Mul bangkrut. Pasca ini, spektrum relasi dan wawasannya menemukan momentum lebih luas.

Ketika ia menjadi wartawan tabloid Dor di Surabaya sekitar 1999. Tak berselang lama, ia pindah ke Harian Memorandum ditempatkan di Jember pada bagian periklanan.

Baru pada 2003, Kang Mul dimutasi ke Probolinggo.

“Saya diminta melakukan pengembangan koran, di sini. Setelah itu, saya jadi wartawan di koran Surabaya Pagi. Saya juga pernah ditarik jadi honorer di Infokom kota. Zamannya Wali Kota Pak Buchori,. pernah juga di tabloid Supremasi Hukum, juga Antara,” ungkapnya.

Kala di Probolinggo itu, Mulyono mencoba bangkit setelah ia disindir sebagai jurnalis lulusan SMA. Kata-kata itu melekat dalam lubuk hatinya Namun ia tak menaruh dendam kepada seseorang yang mengatakannya.

“Kata itu saja jadikan lecutan, Kang. Saya malah berterima kasih kepada rekan saya itu. Itu tamparan keras yang membangunkan saya. Kalau menuruti emosi, akan lain ceritanya,” kata Mulyono lirih.

“Saya pun kuliah di Unyos ambil S1 hukum. Lalu ikut pendidikan khusus advokat di Universitas Islam Kediri. Kemudian magang di Jakarta. Di sana saya 2 tahun. Pada 2011, gabung di Kongres Advokat Indonesia (KAI). Sebelumnya di 2009, saya di Asosiasi Pengacara Syariah Indonesia (APSI).

Di 2012 saya ambil S2 prodi hukum pidana, dan beracara. Dan saat ini, saya dipercaya untuk pegang Peradi SAI (Suara Advokat Indonesia) wilayah Probolinggo raya. Insyaallah dalam waktu dekat akan pelantikan,” jelas lawyer penggemar benda-benda pusaka ini.

Diakuinya, sudah banyak kasus yang ditangani mulai pidana umum, korupsi ilegal logging, ilegal fishing, persoalan tanah, dan perdata. Kebanyakan, untuk kasus tanah berasal dari luar daerah.

Seperti di Banyumas, 2020, ia bersama tim berhasil mengembalikan aset tanah milik Pemkab setempat. Karenanya ia mendapat sertifikat penghargaan dari Pemkab Banyumas.

“Alhamdulillah, lumayan juga (fee-nya). Sampai sekarang saya berhubungan baik,” ujarnya terkekeh.

Kang Mul memberi catatan, profesi jurnalis yang pernah digeluti banyak membantu dalam praktek pendampingan hukumnya.

Prinsip lama pemberitaan 5 W + 1 H, juga menjadi bagian dalam mengurai kasus hukum.

“Dalam bekerja kita ini, harus berdasar data dan fakta. Sama dengan teman-teman media. Kroscek sana sini juga. Yang terpenting, jangan mudah mengeluh, syukuri apa yang kita terima. (mn/ism)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular