BerandaNasionalBertahun-tahun Warga Seletreng Hidup dengan Bau Udang, Pemdes Bisa Apa?

Bertahun-tahun Warga Seletreng Hidup dengan Bau Udang, Pemdes Bisa Apa?

Narasinews.idSITUBONDO– Bisnis penjemuran kulit udang di Desa Seletreng, Kecamatan Kapongan cukup lama menjadi keluhan warga. Mereka merasa terganggu dengan bau yang sangat menyengat.

Namun hingga berita ini ditulis, bisnis yang dinilai cukup merugikan masyarakat itu tetap eksis. Padahal menurut salah seorang warga Desa Seletreng, Syaiful Bahri, bau menyengat dari limbah udang itu sudah dirasakan sejak beberapa tahun lalu.

Pemerintah desa bisa apa? Usut punya usut, Pemerintah Desa Seletreng belum melakukan langkah kongkrit yang dapat menyelesaikan persoalan tersebut. Bahkan belum ada solusi pasti agar warga tidak lagi mencium bau menyengat.

“Kalau baunya sih, jangankan saya untuk menjelaskan. Sampean bisa ke warung-warung kopi, dan tanya terkait bau udang. Karena baunya ya Magrib, seperti bulan puasa kemarin, enak-enaknya orang berbuka puasa mencium bau yang sangat menyengat,” jelasnya, Selasa (17/5/2022).

Biasanya, kata pria yang akrab disapa Ipol ini, bau menyengat timbul ketika limbah udang baru datang. “Apalagi pas musim hujan. Baunya lebih dari bangkai,” tuturnya.

Daerah mana saja yang terdampak? Menurut Ipol, bau udang bisa sampai ke Desa Wonokoyo, Kecamatan Kapongan. Dia bahkan pernah mendengar orang Wonokoyo komplain terkait bau tersebut. “Kalau di Seletreng sendiri, baunya sangat kuat,” ucapnya.

Dan selama ini, kata Ipol, pihaknya tidak bisa berbuat banyak. Masyarakat hanya bisa mengeluh.

“Kalau langkah mencegah, itu kewenangannya desa dan pengusaha. Kalau kita hanya bisa komplain. Dan kita pernah melakukan itu,” ucapnya.

Namun dari Pemdes sendiri, nampaknya belum ada langkah pasti. Sementara kalau DLH, sudah membuatkan SOP. Seperti dimasak dahulu sebelum dijemur, dan proses penjemuran tidak langsung diletakkan di tanah (diberi jarak antara tanah dan penjemuran) agar tidak terlalu bau,” ujarnya.

Dan awal-awal pembuatan SOP, langkah tersebut dilakukan. Namun lambat laun, tidak lagi digunakan.

“Mungkin pengusaha udang tidak mau ribet karena harus dimasak. Mungkin pengeluaran biaya banyak,” ujarnya.

Kades Seletreng Sempat Sepakat Menutup

Sementara, Kepala Desa Seletreng, Taufiq Hidayat, menegaskan bahwa pihaknya sejatinya sempat sepakat untuk menutup bisnis penjemuran kulit dan kepala udang itu. Namun, karena banyak warga di Seletreng yang bekerja mencari limbah udang untuk dijemur, pria yang akrab disapa Opek ini berpikir ulang. Lebih-lebih belum ada ganti untuk pekerjaan mereka jika penjemuran ditutup.

“Di Dusun Komerian saja, sekitar 50 persen bekerja mencari limbah udang. Termasuk di Dusun Curah Saleh dan Kajar,” terangnya.

Bahkan kata Opek, para pencari limbah udang sempat melakukan gerakan kepadanya. “Mereka meminta agar mata pencaharian mereka diganti dengan pencaharian yang lain (jika ditutup). Terus bagaimana kita akan memberikan mata pencaharian itu?” Jelasnya. (liz)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Most Popular