Polresta Banyuwangi Ringkus Predator Anak di Bawah Umur

  • Share
Ringkus Predator Anak di Bawah Umur
Para pelaku kasus persetubuhan dan pencabulan anak dibawah umur saat dihadirkan oleh Polresta Banyuwangi, Kamis (13/1/2022). (Foto : Nurul Yaqin/Narasinews.id).

Narasinews.idBANYUWANGI – Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resort Kota Banyuwangi berhasil membekuk 8 orang predator anak. Kesemuanya pelaku kekerasan dan tindak pencabulan terhadap anak di bawah umur. Mereka diringkus dan diungkap diungkap sejak akhir 2021 sampai awal 2022.

Delapan orang pelaku yang diamankan masing-masing berinisial IN alias C (20), OR, FR alias R (18), AD (16), H (65), S (20), dan SR (49). Semuanya laki-laki, beralamat domisili di Kabupaten Banyuwangi.

Kasus paling mengejutkan yang diungkap ini, satu diantaranya adalah perbuatan sodomi. Mirisnya, sebelum disodomi korban terlebih dahulu dipukuli, karena menolak ajakan tersangka. Sehingga korban tidak berdaya.

Kepala Kepolisian Resort Kota Banyuwangi, Komisaris Besar Polisi Nasrun Pasaribu mengatakan, perbuatan sodomi ini dilakukan pelaku di kawasan perkebunan. “Dengan modus, pertama tama korban diajak seolah-olah ke perkebunan. Namun korban menolaknya, sehingga korban dipukul oleh tersangka. Kemudian dilakukan sodomi,” kata Nasrun saat memimpin release, Kamis (13/1/2022).

Peristiwa ini terungkap saat korban tidak terima dan melaporkannya kepada pihak kepolisian. “Korban kemudian melaporkan pada pihak kepolisian. Tidak beberapa setelah laporan, kita lakukan penyelidikan dan berhasil mengungkap kasus ini,” jelas Nasrun.

Nasrun menyebut, dari berbagai kasus pencabulan dan persetubuhan yang berhasil diungkap, rata-rata orang yang melakukan tindak pidana ini dipengaruhi oleh faktor lingkungan maupun kehidupan para tersangka. “Untuk para korbannya tetap dilakukan pendampingan psikologi. Kita juga lakukan konseling terhadap korban di bawah umur,” imbuh Nasrun.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, para tersangka disangkakan pasal 82 ayat 1 juncto pasal 76 E Undang-undang nomor 17 tahun 2016 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti Undang-undang nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-undang nomor 23 tahun 2022 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-undang.

“Dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun penjara,” tutupnya. (qin/ros)

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *